Cafezinho quente com o chefão do tráfico

Kami tidak berkata apa-apa. Bokep Aku segera melepaskan pelukanku namun Papa menahannya.“Pa, lepaskan aku!” jeritku ketakutan. Ternyata posisi ini lebih nikmat karena terasa lebih menggosok dinding vaginaku yang masih sensitif.“Oh Ninaa.. Nanti kita jenguk jam 12 ya?”Aku terisak sedih dan air mataku mulai mengalir. Tak kuasa menahan nikmat, aku pun mendesah keras terus-menerus. Papa tampak kesulitan menembus selaput daraku.Akhirnya dengan satu sodokan keras, vaginaku berhasil ditembus untuk pertama kalinya. Jarinya dengan lincah menggosok-gosok lubang vaginaku yang mulai basah. Ternyata itulah G-Spot.Aku tidak bertahan lama dan akhirnya orgasme untuk ketiga kalinya. Papa dengan tanpa perasaan segera menyodok-nyodok penisnya dengan kuat dan keras di vaginaku yang masih sempit.Rasa sakit itu berubah menjadi rasa nikmat bagaikan melayang di surga.

Cafezinho quente com o chefão do tráfico